Sastra Bulan Purnama "Mengenang Linus Suryadi AG"
- Wednesday, Mar 27 2013
- Written by Antok Wesman
- Hits: 655
RRI-Jogja News/L-09, Sastra Bulan Purnama edisi ke-19, menampilkan penyair dari tiga generasi untuk mengenang Linus Suryadi AG, penyair liris yang sangat kuat dan telah meninggal 14 tahun lalu. Mengusung tema “Membaca Puisi Membaca Linus” berlangsung Selasa malam (26/03/13) di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.
Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menjelaskan, “Untuk edisi ke-19 ini masih meneruskan seri penyair berbeda generasi membaca puisi, hanya saja, penyair generasi Persada Studi Klub yang dipilih adalah Linus Suryadi AG, karena sampai akhir hayatnya tetap konsisten menulis puisi.
Menurut Ons Untoro, “Sebelum meninggal Linus masih menulis prosa lirik berjudul Kisah Dewi Anjani meski belum terselesaikan. Dua penyair masing-masing, Iqbal H. Saputra, seorang penyair muda generasi 2000-an membacakan puisi karyanya sendiri, kemudian Sri Suwarni Dirjo Suwarno, penyair generasi 1990-an yang memiliki potensi menulis puisi, malam itu juga membacakan puisi karyanya sendiri.
Puisi-puisi Linus Suryadi dibacakan oleh mereka yang belum pernah bertemu langsung namun mengenali karya-karya Linus, yakni Lulu Rahardi yang membacakan dua puisi berjudul ‘Bunga Nirwana’ dan ‘Musim Rontok’. Kemudian Endah Sr membacakan dua puisi Linus berjudul ‘Ibunda’ dan ‘Kembang Tunjung’.
Sedangkan Boen Mada membacakan esai pendek tentang Linus Suryadi yang ditulis oleh Krisbudiman dan didalamnya terdaoat tiga judul puisi yaitu “Maria Dari Magdalena”, “Doa Pagi” dan “Doa Malam”. Maria Widy Aryani membacakan puisi berjudul “Dari Bukit Sion”.
Sahabat-sahabat Linus Suryadi yang oleh Linus dibuatkan puisi seperti Helga Korda, membacakan dua puisi karya Linus berjudul “Lingga dan Yoni (1)” dan “Ibu di Desa”. Direktris Karta Pustaka Yogyakarta, Anggi Minarni membacakan tiga puisi masing-masing berjudul “Elegi”, “Baron” dan “Gereja St. Albertinus Jetis”.
Ami Simatupang dan Cicit Kaswani, membacakan penggalan prosa lirik yang belum selesai berjudul “Dewi Anjani Di Telaga Madrida”. Prosa Lirik “Pengakuan Pariyem” karya Linus yang paling terkenal dan telah dicetak ulang, penggalan kisahnya dibacakan oleh Heru Sambawa, seorang aktor dari Teater Gajah Mada.
Sahabat Linus lainnya, Untung Basuki sejak tahun 1970-an telah menggarap puisi menjadi lagu, menyanyikan beberapa lagu puisi karya
Linus Suryadi. Kelahirannya pada tanggal 3 Maret 1951 di dusun Kadisobo, Sleman diperingati melalui Sastra Bulan Purnama.
Sebagai penyair Linus Suryadi telah melahirkan banyak buku puisi, misalnya “Rumah Panggung”, “Kembang Tunjung”, “Tirta Kamandanu” dan menerbitkan beberapa buku kumpulan esai, seperti “Regol Megal-Megol”, “Nafas Kebudayaan Yogya” dan “Dibalik Sejumlah Nama”.
Dengarkan Podcast Berita :
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.